Maka hidupmu...
Kamu hIdup hanya untuk mengikuti keinginan orang lain
Maka hidupmu menyebalkan
Kamu hidup hanya untuk mengikuti standar orang lain
Maka hidupmu tak bermakna
Kamu hidup hanya untuk mengikuti keinginan dirimu sendiri
Maka hidupmu bosan
Kamu hidup hanya untuk mengikuti standar ala dirimu sendiri
Maka hidupmu selalu kurang
Saat benturan sore itu...
Ingatkan aku pada cermin diriku
Kulempar tatap dan bisu
Maka apakah kau tidak curiga sama si jantung?
Siapakah yang linglung?
Siapakah yang bingung?
Ada patahan yang hilang
Ada ruang yang kosong
Ada lapar yang tak kunjung kenyang
Ada api yang tak bisa padam
Kritislah sedikit
Logika hati akal naluri jiwa
Bukan berdasarkan survei atau data ala manusia
Walau kau bersikeras teriak "fakta! Fakta! "
Aku jadi geli sendiri
Sambil bingung harus meringis atau terkikik
Merasa kasihan namun kau tak peduli
Ironis sekali aku tak tahan lagi
Rasanya aku ingin runtuhkan saja
Dan pergi meninggalkan bumi
Tapi aku dididik bukan untuk ikut menghardik
Tapi hakikatnya mengikuti perintah Sang Maha pencipta
Ia mencinta dengan amat sempurna
Lalu tinggalah aku seonggok daging pelupa
Yang suka bilang nanti atau besok lusa
Katakanlah, dia Allah Tuhan semesta alam!
Berkatalah demikian atau diam
Semua bersujud kepadaNya
Datang dengan penuh pengharapan mau ataupun terpaksa
Lalu kau mau pilih apa?
Pilih lupa?
Pilih buta?
Pilih tuli?
Pilih gagu?
Pilih bisu?
Pendusta!
Pura-pura cacat.
Ya... Aku paham caramu
Biar kau dengan caramu
Dan kami masih bersabar menanti
Lakukan bagianmu saja..
Dan tertawailah kami seperti pendahulumu yang senantiasa berdusta.
Maka hidupmu menyebalkan
Kamu hidup hanya untuk mengikuti standar orang lain
Maka hidupmu tak bermakna
Kamu hidup hanya untuk mengikuti keinginan dirimu sendiri
Maka hidupmu bosan
Kamu hidup hanya untuk mengikuti standar ala dirimu sendiri
Maka hidupmu selalu kurang
Saat benturan sore itu...
Ingatkan aku pada cermin diriku
Kulempar tatap dan bisu
Maka apakah kau tidak curiga sama si jantung?
Siapakah yang linglung?
Siapakah yang bingung?
Ada patahan yang hilang
Ada ruang yang kosong
Ada lapar yang tak kunjung kenyang
Ada api yang tak bisa padam
Kritislah sedikit
Logika hati akal naluri jiwa
Bukan berdasarkan survei atau data ala manusia
Walau kau bersikeras teriak "fakta! Fakta! "
Aku jadi geli sendiri
Sambil bingung harus meringis atau terkikik
Merasa kasihan namun kau tak peduli
Ironis sekali aku tak tahan lagi
Rasanya aku ingin runtuhkan saja
Dan pergi meninggalkan bumi
Tapi aku dididik bukan untuk ikut menghardik
Tapi hakikatnya mengikuti perintah Sang Maha pencipta
Ia mencinta dengan amat sempurna
Lalu tinggalah aku seonggok daging pelupa
Yang suka bilang nanti atau besok lusa
Katakanlah, dia Allah Tuhan semesta alam!
Berkatalah demikian atau diam
Semua bersujud kepadaNya
Datang dengan penuh pengharapan mau ataupun terpaksa
Lalu kau mau pilih apa?
Pilih lupa?
Pilih buta?
Pilih tuli?
Pilih gagu?
Pilih bisu?
Pendusta!
Pura-pura cacat.
Ya... Aku paham caramu
Biar kau dengan caramu
Dan kami masih bersabar menanti
Lakukan bagianmu saja..
Dan tertawailah kami seperti pendahulumu yang senantiasa berdusta.
Komentar
Posting Komentar