Antara Realitas dan Idealisme

 Merasa asing terkadang, ya memang benar.

Selalu merasa dihempas dan ditampar beberapa kali.

Dengan realitas.


Namun, ide-ide yang ada didalam agama juga mengajarkan tentang kekuatan akan idealisme yang menjadi keyakinan yang bahkan melampaui realitas yang ada. Bahkan menambah nilai sesuatu lebih mendalam.


Seperti ada yang bertanya, apakah tuhan itu?

Lalu dimana? Realitasnya?


Tak melulu yang nampak realitasnya juga merupakan kenyataan.

Terkadang yang nampak malah hanya sekelibat fatamorgana. 


Belum tentu yang tak nampak tak nyata.

Mungkin diri ini yang belum sampai, atas segala keterbatasannya…


Saat perang ahzab, kaum muslimin memandang musuh dengan hati yang terguncang dengan jelas realitasnya ia melihat kekalahan nampak didepan wajahnya. 


Tapi, apakah mereka yang ditampar realitas menyerahkan dengan murah segala idealisme yang mereka pegang?


Dan warna jiwa itu berbeda-beda…


Katanya, “jangan terlalu berkeras diri…”


Aku percaya diriku, aku percaya pada Tuhanku.

Bahwa langit dan bumi tidak dicipta untuk sia-sia kan.

Bahwa aku juga tidak dicipta asal menjadi seperti demikian.


Maka aku akan selalu berkeras diri hingga akhir memegang segalanya, meski berat dan diguncang dengan segala hal.


Setidaknya, jika aku tak mendapatkannya..

Tapi tuhanku melihatku, ia menatapku bahwa aku tak pernah menggadaikannya. 


Akan menjadi yang termewah didalam hidupku. Apa yang berdetak dan menyala ini takkan kupadamkan malah akan ku warisi, insyaallah.

Maka aku bertahan, aku peduli.


Manusia memang suka kemewahan bukan?

Aku manusia dan sangat menginginkannya.. 

Kemewahan yang tak pernah tercela pada pandanganku.


Kembali merayu tuhanku…

Berserah beri kepadaku…


Yang hanya Engkau beri pada kesayanganmu..

Maka berilah padaku. 


Maka pantaskan aku.

Aku menginginkan segala mewah itu ya rabb..


Aku ingin menjadi seperti mereka

Yang meski goyah tapi tetap berdiri


Gemetar namun tetap berteriak lantang.

Aku ingin bersama dengan mereka yang mencintaiNya


Walau mana sanggup diriku. Tapi aku mau. 


Semoga Tuhan semesta alam, mengizinkanku, memberikanku..




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arah

Indonesia tanpa pacaran