Jeruji emas

Apa yang harus kulakukan?
Saat ku tak tahu apa yang ingin ku lakukan!
Hanya diam...
Dibawah ranjang kasur,
Atau
Dibawah selimut kusut,
Atau
Dibelakang pintu,

Sempit,
Aku tidak muat di pojok khayalan.

Aku mau lepas,
Aku mau bebas,

Lalu menanjak keatas loteng,
Meneriaki semua orang tuli,

"Hei!!! Dengar....."

Aku berteriak sendirian,
Hingga buta menjadi pagi,
Hingga gelap menjadi malam,
Hingga bolong menjadi siang,

Istirahat dulu...
Aku pergi dulu,
Memisahkan diri dari debu,
Debu keserakahan...

Lagi lagi membuat penyakit buta dan tuli,

Aku pun pergi...
Atau melarikan diri...
Atau bersembunyi kembali?

Terkurung dikolong pikiran!

Aku tesesat...
Sengaja tersesat...

Karena sangat menyenangkan,
Jika tersesat saat mencari nyala harapan...

Katanya...
Harapan selalu datang...
Bagi sesiapapun yang mencari...

Nyatanya...
Haruslah aku yang datang...
Dan barulah harapan yang mencari...

Itu bukan katanya...
Itu rumusnya...

Maka aku pun bertanya...
Selalu bertanya...

Karena jika terjawab pertanyaannya,
Tak bisa ku suarakan...
Hanya mereka bergumul didalam sangkar,

Yang kusebut...
Penjara kemewahan.

Adalah hatimu.
Sebuah jeruji emas,

Saksi penindasan, saksi perlawanan,
Dirimu atas dunia.

Mungkin sudah terlambat untuk melakulan,
Namun masih dini untuk diwariskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Realitas dan Idealisme

Arah

Indonesia tanpa pacaran