Akira

Tubuh kecil hanya pembungkus
Mata itu seperti membakar hangus
Jiwa luhur tumbuh layak kaktus
Berduri tapi subur dilahan tandus

Dengan tatapan sedingin es
Tumbuhlah seorang penjaga
Dia merambatkan suaranya ke jantung
Tak tahu akan jerit ia hanya manusia

Hening...
Adalah teriakan yang bersuara keras

Diam...
Itulah usaha yang terbaik untuk hari ini

Angin musim dingin datang dari utara
Tapi musim hampir cair karena dia
Hangat mengudara tiap hembusan dari dadanya
Tangan itu bergetar saat menyentuh tanah gembur

Wajah beku sedingin salju
Namun detak didalamnya adalah matahari

Monorail.
Bandara.
Pesawat.
Stasiun.

Semua kenangan.
Semua pembelajaran.

Dan dia adalah gemilang.

Melangkah kakinya
Kedalam gelap yang menghujaninya

Namun ketika ia melangkah...

Bumi ini serasa langit malam
Dan hadirnya layaknya kerlipan bintang

Kerja bagus akira,
Walaupun mereka tak tahu.
Tapi kau tahu akan benar.

Mereka tak mengerti,
Dan kau pahami.

Bukankah ini tanggung jawabmu akira,
Dan kau akan tahu jawabannya
Atau kau sudah tahu?

Jangan menyerah akira,
Lihatlah sekelilingmu
Dan tancapkan lagi akarmu

Perkuatlah untuk musim selanjutnya,

Suatu hari nanti akira,
Tanganmu akan sangat lapang.
Selapang jiwamu...

Bagaimana bisa manusia seperti akira?

Manusia setengah permata
Manusia setengah bintang

Memandang indah bintang utara,
Sama dengan sebuah nama,
Akira.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Realitas dan Idealisme

Arah

Indonesia tanpa pacaran