Barisan-barisan

Aku sudah berada dalam perbatasan diri dalam kesabaran...
Benar dan salah pun jadi bahan uji dan tontonan.
Dan aku yang tak memiliki apa apa..
Masih ingin bersura keras,
Aku masih ingin memaki dunia,
Dan aku masih ingin seluruh dunia tahu,
Bahwa ada yang berkilau meski dipendam.
Ada yang murni ditumpukan imitasi.
Ada yang peduli diantara kemunafikan.
Aku memang bukan pemiliknya..
Aku hanya gelandangan juga,
Yang hanya ingin berbagi...
Lalu bagaimanakah caranya..
Sangat lelah dan sesak...
Aku sangat ingin menghancurkan saja..
Atau mundur menjauh dan sangat jauh...
Karena setiap aku melihat dengan kedua mataku..
Hatiku serasa ingin meledak.
Tapi aku begitu lemah jika ingin...
Tanganku masih bergetar memegang tombak,
Ragaku masih tak tegap menatap kerusakan.
Hanya aku si bodoh yang selalu mencoba menyelinap...
Mengambil peran figuran di panggung ini..
Mencoba mencoba berperan meski tak bernama..
Aku hanya pemimpi gila bagimu,
Yang bisa melihat tumpukan emas dibalik sampah itu..
Yang bisa melihat tumpukan sampah yang kau anggap emas itu..
Bagaimana caranya...
Nyatanyaaa.. Kita memang terpisah dalam barisan-barisan..
Dan itu sangat menyakitiku..
Karena kenyataannya selalu tak sejalan...
Namun aku juga tak mau memaksakan.. Karena hanya merusak pola alam dalam seleksinya..
Maka bertemulah kelak diperbatasan.
Dalam baris berbeda..
Dalam panji yang berbeda..
Dan semoga Allah merahmati kita..
Dan melihat hati kita.
Dan mengenali kita...
Sebagai hambaNya yang senantiasa berusaha untuk menjadi yang paling bertakwa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Realitas dan Idealisme

Arah

Indonesia tanpa pacaran