Perbedaan
Assalamualaikum wr. Wb.
Alhamdulillahi rabbil alamin atas segala rahmat dan hidayah dari Allah swt yang atasNya kita semua bisa tetap hidup dan beraktifitas dengan baik. Dan semoga langkah kaki kita di bumi ini selalu dalam bimbingan Allah dan perlindunganNya. Aamiin ya rabb..
Kali ini penulis mau share tentang kekhawatiran penulis, tentang perbedaan. Tulisan singkat saja. Hehe
Akhir-akhir ini setiap kali buka sosmed, nonton tv, beritanya kian memanas dan tak terhenti tentang #2019gantipresiden? #2019tetapjokowi?
Aneh sekali,
Indonesia yang saya tahu adalah negara yang "biasa aja" dengan perbedaan. Kita hidup berdampingan dengan berbagai macam suku, agama, warna kulit, udah biasa banget lah.
Perbedaan adalah bumbu sehari hari, toleransi adalah udara yang biasa wara wiri di indonesia.
Indonesia seperti "terpecah" menjadi dua kubu?
Yakin pecah?
Bukannya cuma beda pilihan aja ya?
Indonesia gak separah itu,
Dan jangan digesek terus... Nanti lukanya tambah lebar:)
Tapi mengapa kali ini sebuah perbedaan serasa menjadi "penting" untuk diperdebatkan?
Buktikanlah.. Bukan didebat, terus seakan menekan hak orang untuk menjadi dirinya sendiri?
Semua harus kokoh dalam batas masing2,
Yang pro "si A" yaudah pro aja sana fokus.
Yang pro "si B" yaudah pro aja sana fokus.
Lakukanlah.. Berbahagialah tanpa menyakiti orang lain.. Tinggilah tanpa merendahkan orang lain, ingat batasan.
Perbedaan pendapat hal yang wajar.
Gak usah saling tuduh,
Mengkritik juga bagian dari kepedulian maka berterima kasihlah.
Janganlah kalian "menuhankan seseorang".
Hanya kepada Tuhan lah selayaknya kalian bertawakal.
Dan yang mana kiranya yang mendekati akal kalian akan ketawakalan kalian.
Pada baris yang mana?
Sungguh semua ini hanyalah sandiwara yang dibuat serius.
Lalu apa?
Selain tontonan yang akan didapatkan?
Dan para pencari harapan terus menggelontorkan isi apapun yang terdapat dalam dirinya.
Pada akhirnya semua hanya akan mendapatkan apa apa yang diusahakan dan diharapkannya. Insyaallah.
Perbedaan ini, jangan jadikan rusak, namun perindahlah.
Jangan memperburuk meski tak terlihat baik,
Tapi perbaikilah meski hanya sedikit,
Ayo lah.. Ini ujian untuk kita,
Semampu apa kita melewatinya dengan penuh rasa pancasila yang selalu digadang gadang.
Tidak pro bukan berarti kontra.
Kau tahu betul, kritik juga bagian dari kepedulian.
Karena manusia tahu betul, akan KETIDAKSEMPURNAAN. Dan kritik adalah penyempurnanya.
Orang sehat mana yang tak butuh kitik?
Hanya orang sakit yang butuh belaian dan dukungan untuk lekas sembuh.
Apakah negeri sedang sakit?
Siapa yang sakit? Pemimpin? Pejabat? Rakyat?
Kalau semua sakit, siapa yang harus sehat?
Semua harus sehat!
Marilah sehat dalam berpikir,
Sama sama bangun indonesia,
Tanpa amarah, dan harap bersabar.
Perbedaan itu biasa bukan?
Jika sebagian muslim dan yang lain tidak, apakah muslim bukan manusia nusantara?
Beragam bukan berarti seragam.
Berbeda itu bukan radikal, tapi harmoni.
Dan jagalah keseimbangannya,
ah kenapa harus diucapkan hal hal yang harusnya sudah jelas!
Beragam itu saling menghargai dan komitmen untuk menjaga.
Wallahu alam.
Lets pray and move on to the next!
P. S. Numpang komen di blog biar plong hati nih :(
Allah SWT berfirman:
وَاِنْ كَانَ طَآئِفَةٌ مِّنْكُمْ اٰمَنُوْا بِالَّذِيْۤ اُرْسِلْتُ بِهٖ وَطَآئِفَةٌ لَّمْ يُؤْمِنُوْا فَاصْبِرُوْا حَتّٰى يَحْكُمَ اللّٰهُ بَيْنَنَا ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحٰكِمِيْنَ
"Jika ada segolongan di antara kamu yang beriman kepada (ajaran) yang aku diutus menyampaikannya, dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah sampai Allah menetapkan keputusan di antara kita. Dialah Hakim yang terbaik."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 87)
قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ لَـنُخْرِجَنَّكَ يٰشُعَيْبُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَاۤ اَوْ لَـتَعُوْدُنَّ فِيْ مِلَّتِنَا ۗ قَالَ اَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِيْنَ
"Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaum Syu'aib berkata, Wahai Syu'aib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman dari negeri kami, kecuali engkau kembali kepada agama kami. Syu'aib berkata, Apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak suka?"
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 88)
Allah SWT berfirman:
قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اِنْ عُدْنَا فِيْ مِلَّتِكُمْ بَعْدَ اِذْ نَجّٰٮنَا اللّٰهُ مِنْهَا ۗ وَمَا يَكُوْنُ لَـنَاۤ اَنْ نَّعُوْدَ فِيْهَاۤ اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ رَبُّنَا ۗ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ عَلَى اللّٰهِ تَوَكَّلْنَا ۗ رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَـقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفٰتِحِيْنَ
"Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, setelah Allah melepaskan kami darinya. Dan tidaklah pantas kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami, menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 89)
Komentar
Posting Komentar