Topeng Ingkar


Pada sebuah lorong sempit disudut jalan itu
Kudengar suara tangisan
Merintih kesakitan seraya mengaduh
Kutelusur gelapnya langit kala itu
Semakin dalam dan gelap
Kudapati sosok yang mengeluh dihadapanku
Memohon hati untuk mengiba pada kedua mata merahnya
Ku menatapnya mencoba menyaingi malaikat
“Apakah aku dapat membantu?”
Ia makin mengaduh
Ia makin kesakitan
Aku tidak bisa melihat jelas malam itu
Hanya tergambar sosok iblis yang mengiba
“Bantu aku, aku ingin kembali padaNya, takkan kujadi ingkar”
Ku gemetar melihat mata yang menyendu
“aku bersungguh-sungguh, tolonglah aku”
Ku makin mengiba melihat kesakitan yang menaunginya
Dingin merayapi sehingga aku lupa bernapas
 “aku tidak bisa membantu, aku hanyalah manusia biasa”
Ku menjadi iba…
Mencoba sebaik mungkin seakan menghiburnya
“tidak! Kau bisa membantuku… aku amat membutuhkanmu… tinggalah lebih lama disisiku, cukup itu saja”
Ku seolah merasa memiliki berkah surga
Seperti kisah dalam drama…
Ketersesatan mulai mengetuk penuh siasat
Dia mengumpat senyum dalam derai air matanya
Menahan tawa dari lelucon yang terpancar dari lemah hatiku
Kulempar lagi keraguan dalam hatiku
Kepalaku serasa beku ditusuk dinginnya malam itu
Dia masih menatapku penuh harap
 “mungkin kau salah paham padaku”
Lalu Aku tersenyum… aku berbalik arah dari mata merah itu…
mengambil arah pulang menuju pelita di sebelah sana
“hei, kau begitu kejam, teganya kau meninggalkanku yang kesakitan ini, berdosanya atas dirimu”
Aku berjalan sebanyak tiga langkah
Sekiranya aku menengok perlahan,
menatapnya yang pelan-pelan menampakan wujud aslinya
“aku tidak sebodoh itu”
Aku berjalan gontai terpogoh-pogoh menuju pelita
Baru sebentar saja didekatnya ragaku sudah separuh hancur
Darah menetes senada dengan langkah gontaiku
Dia masih mengintaiku
Dia masih menatapku
Tapi kini wajahnya yang sendu telah berbalik warna
Dia menghapus riasan wajahnya
Topeng ingkar penuh muslihat
Hanya saja tak bisa dia hapuskan dendam yang menjalari raganya
Ikrarnya sedari dulu masih tertera dalam dadanya
Hanya saja aku yang fana, sehingga aku kurang iman
Selamat, kali ini kuselamat,
Tapi bagaimana dengan mereka yang telah busuk
dan Daging mereka telah hancur?
“semoga saja mereka mengerti”
“semoga saja mereka ingat”
“akan hakekat dan kebenaran”
.
.
.
.
“ dan sungguh telah kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya”
“dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kamu kepada Adam!” lalu mereka bersujud, kecuali iblis; dia menolak”
“ Kemudian kami berfirman, “Wahai Adam sungguh iblis ini adalah Musuh bagimu dan istrimu, maka sekali-sekali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti kamu celaka”
(QS. Taha(20):115-117)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Realitas dan Idealisme

Arah

Indonesia tanpa pacaran